Proses tersebut dilangsungkan
secara harmonis dalam satu upacara pemakaman yang menunjukkan penghormatan
orang Toraja pada leluhur mereka yang telah meninggal.
Proses pemakaman (rante) biasanya
diadakan di tengah lapangan yang ada pada kompleks rumah adat tongkonan.
Prosesi ini terdiri dari beberapa
kegiatan ritual. Ma’Tudan Mebalun, yaitu prosesi untuk melakukan pembungkusan
pada jasad orang yang meninggal Ma’Roto, yaitu prosesi untuk menghias peti
jenazah dengan menggunakan benang emas dan benang perak.
Ma’Popengkalo Alang, yaitu prosesi
mengarak atau membawa jasad yang telah dibungkus ke sebuah lumbung untuk
disemayamkan. Ma’Palao atau Ma’Pasonglo, yaitu proses mengarak jasad dari area
Rumah Tongkonan ke kompleks pemakaman yang disebut Lakkian.
Sedangkan pada prosesi kesenian,
terdapat beberapa bentuk kesenian toraja yang disuguhkan. Kesenian ini tidak
hanya untuk memeriahkan upacara tetapi juga sebagai bentuk penghormatan dan doa
bagi orang yang sudah meninggal.
Terdapat beberapa bentuk kesenian
yang biasanya disuguhkan. (baca fungsi seni pertunjukan) Mengarak kerbau yang
akan menjadi kurban Pertunjukan beberapa musik daerah, seperti Pa’Pompan,
Pa’Dali-dali, dan Unnosong.
Pertunjukan beberapa tarian adat
suku Toraja, antara lain Pa’Badong, Pa’Dondi, Pa’Randing, Pa’katia,
Pa’Papanggan, Passailo dan Pa’Silaga Tedong.
Pertunjukan Adu Kerbau, sebelum
kerbau-kerbau tersebut nantinya akan dikurbankan. Penyembelihan kerbau sebagai
hewan kurban sebagai pelengkap prosesi upacara kematian. Pada saat
penyembelihan kerbau, kerbau disembelih dengan cara menebas leher kerbau hanya
dengan sekali tebasan.
Cara ini merupakan ciri khas
masyarakat Tana Toraja. Selain itu, kerbau yang akan disembelih bukanlah kerbau
biasa, tetapi kerbau bule yang disebut Tedong Bonga yang harganya bisa mencapai
angka antara 10 hingga 50 juta atau lebih per ekornya.
Sumber
: seni kebudayaan-suku-toraja






Tidak ada komentar:
Posting Komentar