Kabarbpp58.net,Jambi – Pada awalnya orang banyak tidak
mengenal siapakah M.Nuh, sosok yang menjadi pemenang lelang motor gesit
bertanda-tangan Jokowi.
Namun,
setelah menjadi pemenang lelang motor bertanda tangan Presiden Jokowi, senilai
2,55 Miliar Rupiah. M. Nuh menjadi orang penting dan sangat dicari-cari, paling
tidak untuk mengetahui siapa sosok M. Nuh sebenarnya.
Adalah
konser musik peduli Covid-19 yang digelar oleh BPIP-MPR dan BNPB dan dihadiri
oleh Ketua MPR, Bambang Soesatyo dan sejumlah elite pejabat negeri dengan
moderator Choki Sihotang dan Andi F Noya serta Wanda Hamidah, yang bertugas
menerima penelpon peserta lelang, Minggu (17/5).
Meski
awalnya menuai kecaman, Konser yang menghadirkan artis papan atas dan bimbo ini,
memutuskan M.Nuh adalah pemenang lelang motor bertandatangan Presiden Jokowi,
tetap berjalan.
"Kami
sudah memverifikasi 2 kali dan sudah menghubungi M.Nuh, beliau sangat
mengharapkan untuk memenangkan lelang ini," kata Wanda hamidah dalam
proses lelang tersebut.
Dalam
Ilmu jurnalistik, kita mengenal apa yang disebut dengan cross chek and balance yaitu
aktifitas wartawan yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan berita dan
kebenaran berita.
Alhasil,
wartawan wilayah Jambi tanpa diperintah siapapun langsung melakukan pengecekan
lapangan dan ke aparat setempat, hingga mencari tempat tinggal M. Nuh di
Kampung Manggis, kelurahan Sei Asam, Pasar Kota, Jambi.
Hasilnya
mencengangkan, ternyata M. Nuh bukanlah seorang pengusaha tapi hanya buruh
harian lepas atau biasa bekerja sebagai seorang buruh bangunan.
Dalam
sebuah wawancara TV Lokal, Camat Pasar Kota Jambi, Mursidah mengaku pihaknya
sudah mengecek berulang-ulang terkait M. Nuh.
"Itulah
kami yang pening pala, lah tegilo-gilo jadinyo. Tau dewek, kampung itu dihuni
warga menengah kebawah dan sudah dicari, dak katek, namo M.Nuh
pengusaha,," ujar Camat Pasar kota Jambi.
Dalam
kondisi seperti ini, penulis tidak melihat adanya Cross and chek balance yang
dilakukan oleh panitia lelang. Penulis juga tidak melihat adanya validitasi
data akurat dalam lelang ini, terkesan konser musik peduli Covid hanya
dilakukan untuk tujuan menghibur, jika tidak mau dibilang menghabiskan
anggaran.
Aktivitas
yang menggunakan anggaran negara dalam kondisi Covid-19 seperti ini seharusnya
dilakukan dengan perencanaan yang matang dengan Even organizer yang berkualitas
dan tidak terkesan asal-asalan atau hanya mencari keuntungan sepihak.
Saran
penulis, BPIP (Badan Pembinaan Ideologi Pancasila) harusnya meminta
pertanggung jawaban even organizer karena output konser musik peduli Covid-19
yang amburadul dan meminta permohonan maaf secara terbuka.
Polisi
juga seyogyanya tidak perlu reaktif dan apalagi melakukan penahanan terhadap M.
Nuh karena kesalahan sebenarnya adalah tidak dilakukan Verfikasi data valid dan
Cros chek balance yang harusnya menjadi tugas panitia lelang atau even
organizer acara.
Namun,
BPIP kini agak bernafas lega karena akhirnya anak pengusaha dan Juga anak Ketua
Umum Partai Perindo, Warren Tanoesudibyo terpilih sebagai pemenang lelang.
M.Nuh
memang bukan siapa-siapa dibanding Warren Tanoesudibyo, anak pengusaha dan
pemilik media Harry Tanoesudibyo, yang berusia 19 tahun.
Tapi
paling tidak, M.Nuh telah memberikan pembelajaran bagi kita semua, pentingnya Cros
chek and balance.
Suhendra Atmaja
Penulis adalah Dosen
STIKOM InterStudi Jakarta


Tidak ada komentar:
Posting Komentar